MENCEGAH DAN MENANGGULANGI KEBAKARAN

0
  1. Teknik dan taktik mencegah kebakaran.

Kebakaran adalah Persenyawaan kimia secara cepat antara zat pembakar, Oksigen (O2) dengan bahan bakar yang tidak dapat dikuasai/ dikontrol oleh manusia.

Gambar. Terjadinya kebakaran (sifat api)

  • PENYEBAB TERJADINYA KEBAKARAN
  1. Perbuatan sengaja
  2. Main-main
  3. Panas Mekanik
  4. Penyalaan tiba-tiba dari Gas mudah terbakar
  5. Penyalaan sendiri dari sinar matahari yang difokuskan dari akibat petir
  6. JENIS-JENIS KEBAKARAN
  7. Kelas A

            Kebakaran benda padat seperti kayu, kertas, tekstil, dll.

  1. Kelas B

            Kebakaran benda cair seperti ; Bensin, solar, minyak lampu, cat, dll.

  1. Kelas C

            Kebakaran Akibat Arus Listrik

  1. Kelas D

            Kebakaran yang ditimbulkan logam seperti ; potassium, sodium, magnesium, dll.

  • MENCEGAH KEBAKARAN
  1.  Membuat rambu-rambu Keselamatan kerja
  2.  Dilarang merokok pada tempat tertentu
  3.  Menyimpan Bahan pada tempatnya
  4.  Hindari letusan Api
  5.  Menutup rapat Kran Gas
  6.  Menghindari kebocoran Gas
  7.  Lakukan Instlasi listrik dengan benar
  8.  Hati-hati membakar sampah
  9. MENANGANI KEBAKARAN
  10. Mengenal Alat-alat tanda Bahaya

            – Fire Alarm

            – Fire Lock

            – Lonceng Besi

            – Suara Teriak

  • Mengenal alat-alat Detector

             – Detector Ionisasi

            – Detector Photoelektrik

             – Detektor Potometrik

  •  Pintu/tangga darurat
  • PROSES MENGATASI KEBAKARAN
  • Proses Isolasi

            Memutuskan Udara luar dengan barang  yang sedang terbakar.

  •  Proses Pendinginan

            Penyerapan panas oleh bahan lain misalnya : Karung Goni, Air  dll.

  •  Proses Cerai

            Memisahkan benda-benda lain yang belum terbakar.

  • PERALATAN PEMADAM
  • Menggunakan pemadam kebakaran sesuai jenis Apinya.

             – APW ( Air Pressurized Water Extinguishers).

            Cocok digunakan Untuk Api Kelas A 

  • ABC (Dry Chemical Etinguisher)

            Pemadam Api Gas Asam Arang.

            Cocok digunakan untuk kelas Api jenis BC

  • Metal – X

              Cocok digunakan untuk kelas Api D

  • LANGKAH-LANGKAH KETIKA TERJADI KEBAKARAN
  1. Atasi manusia yang ada di tempat kejadian untuk memadamkan Api selama masih mampu.
  2. Bunyikan Bel atau Lonceng pertanda Kebakaran.
  3. Hentikan semua pekerjaan, putus aliran Listrik, Amankan semua Gas atau yang mudah terbakar.
  4. Buka pintu keluar dan keluarkan orang yang tidak bekerja.
  5. Bila perlu laporkan ke pimpinan untuk tindak lanjut.

Keselamatan Kerja dan pencegahan Kecelakaan Kerja

Latar belakang.

Eksistensi K3 sebenarnya muncul bersamaan dengan revolusi industri di Eropa, terutama Inggris, Jerman dan Prancis serta revolusi industri di Amerika Serikat. Era ini ditandai adanya pergeseran besar-besaran dalam penggunaan mesin-mesin produksi menggantikan tenaga kerja manusia.

Pekerja hanya berperan sebagai operator. Penggunaan mesin-mesin menghasilkan barang-barang dalam jumlah berlipat ganda dibandingkan dengan yang dikerjakan pekerja sebelumnya. Revolusi IndustriNamun, dampak penggunaan mesin-mesin adalah pengangguran serta risiko kecelakaan dalam lingkungan kerja.

Ini dapat menyebabkan cacat fisik dan kematian bagi pekerja. Juga dapat menimbulkan kerugian material yang besar bagi perusahaan. Revolusi industri juga ditandai oleh semakin banyak ditemukan senyawa-senyawa kimia yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan fisik dan jiwa pekerja (occupational accident) serta masyarakat dan lingkungan hidup.

Pada awal revolusi industri, K3 belum menjadi bagian integral dalam perusahaan. Pada era ini kecelakaan kerja hanya dianggap sebagai kecelakaan atau resiko kerja (personal risk), bukan tanggung jawab perusahaan. Pandangan ini diperkuat dengan konsep common law defence (CLD) yang terdiri atas contributing negligence (kontribusi kelalaian), fellow servant rule (ketentuan kepegawaian), dan risk assumption (asumsi resiko) (Tono, Muhammad: 2002).

K3 baru menjadi perhatian utama pada tahun 70-an searah dengan semakin ramainya investasi modal dan pengadopsian teknologi industri nasional (manufaktur). Perkembangan tersebut mendorong pemerintah melakukan regulasi dalam bidang ketenagakerjaan, termasuk pengaturan masalah K3.

Hal ini tertuang dalam UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, sedangkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan sebelumnya seperti UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang Kerja, UU No. 14 tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja tidak menyatakan secara eksplisit konsep K3 yang dikelompokkan sebagai norma kerja.

Setiap tempat kerja atau perusahaan harus melaksanakan program K3, tempat kerja dimaksud berdimensi sangat luas mencakup segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan tanah, dalam air, di udara maupun di ruang angkasa.

Secara umum dapat diartikan tujuan penerapan K3 di proyek adalah agar tidak terjadi kecelakaan kerja ( zero accident)

Program k3 pada proyek (RKP) meliputi :

o Kondisi lingkungan lengkap dengan perencanaan site.

o Struktur organisasi K3

o Pokok-pokok perhatian K3

o Identifikasi resiko kecelakaan dan pencegahan

o Identifikasi kondisi dan alat yang dapat menimbulkan potensi bahaya.

o Jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

o Daftar Instansi terkait.

o Kondisi Lingkungan dan Perencanaan Site.

o Pengaturan jalan mobilitas bahan, tenaga dan alat.

o Lokasi penyimpanan bahan/material.

o Lokasi fabrikasi

o Direksi keet

o Barak kerja.

Prosedur Keselamatan Kerja

Prosedur Keselamatan kerja mengacu pada landasan hukum tentang K3L, diantaranya adalah:

 Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

 29 Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I.. No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

 Upaya Pencegahan Kecelakaan sebagai Jaminan Kesehatan dan Keselamatan KerjaUntuk menghindari segala kemungkinan kecelakaan kerja, pihak perusahaan harus melakukan beragam upaya pencegahan, seperti pemeriksaan rutin kesehatan mental dan fisik setiap pekerja dan calon pekerja, penyelenggaraan penyuluhan atau training atau pelatihan tentang pengetahuan terkait kesehatan dan keselamatan kerja.

 Penggunaan pelindung seperti topi, sepatu, dan pakaian pelindung pada area kerja yang berbahaya, penjelasan detail tentang penggunaan alat atau bahan kerja yang rentan bahaya, pengawasan ketat selama jam kerja, serta pihak perusahaan harus secara tegas memberikan peraturan tertulis mengenai kewajiban para pekerja demi menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi pekerja sendiri, bagi lingkungan kerja, bagi masyarakat di sekitar lingkungan kerja, serta bagi perusahaan.

 Apakah tempat anda bekerja telah memberikan jaminan K3 ini? dan apakah anda sebagai pemilik perusahaan sudah menjamin K3 pada para karyawan anda? Ingatlah, kesehatan dan keselamatan kerja adalah investasi jangka panjang bagi anda dan perusahaan anda.

Faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja :

Faktor manusia : Tingkah laku yang sembrono, pengetahuan yang kurang, keterampilan yang kurang memadai, kelelahan, kondisi fisik yang kurang sehat, mental yang labil/stress dan tidak disiplin dalam mematuhi aturan keselamatan.

Faktor alat-alat kerja :

Kurang sesuai dengan postur tubuh, tidak layak pakai, tidak memakai alat pengaman.

Faktor lingkungan kerja : Kondisi tempat kerja yang tidak memenuhi persyaratan, sikap pimpinan yang kurang mendukung.

Tindakan Berbahaya (Unsafe Practices) :

o Mengoperasikan mesin tanpa wewenang.

o Mengoperasikan mesin dengan kecepatan berlebihan.

o Membuat alat keselamatan tidak bekerja/berfungsi.

o Gagal memberikan dan memastikan tanda peringatan berbahaya.

o Menggunakan perkakas yang rusak.

o Menggunakan perkakas yang salah.

o Tidak menggunakan alat pelindung diri.

o Memuat atau menempatkan barang secara tidak benar.

o Mengangkat dengan cara yang salah.

o Mengambil posisi badan yang salah.

o Memperbaiki perkakas (mesin) yang sedang bergerak.

o Bersenda gurau pada waktu bekerja.

o Mabuk pada waktu bekerja.

Keadaan berbahaya :

o Penutup atau pelindung keselamatan berada pada posisi yang tidak tepat.

o Tata rumah tangga (lingkungan kerja) yang jorok dan semrawut.

o Suara bising yang berlebihan.

o Ventilasi yang kurang tepat.

o Adanya penyebaran radiasi.

o Mesin, alat kerja dan bahan-bahan produksi dalam keadaan rusak.

o Sistem pemberian peringatan/tanda yang tidak tepat.

Atmosfir yang tidak terkontrol (gas, debu dan uap).

Macam kecelakaan :

o Tertumbuk pada ………….

o Tertumbuk oleh …………..

o Jatuh dari ketinggian yang berbeda.

o Tersangkut dalam …………

o Tersangkut pada ………….

o Tersangkut diantara ……….

o Kontak dengan listrik, panas, dingin, radiasi, caustic, suara bising dan bahan beracun.

o Beban berlebihan.

Penerapan K3 di Tempat Kerja :

  1. Membentuk atau meningkatkan aktivitas Panitia Pembina Keselamatan dan Keselamatan Kerja (P2K3) yang terdiri dari unsur pekerja/Serikat Pekerja dan Manajemen dengan anggota yang memiliki kepedulian, pengetahuan dan ketrampilan tentang K3.
  2. Membuat rencana kegiatan serta melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi rencana kegiatan.
  3. Melakukan aktivitas harian dalam bentuk inspeksi, berbicara 5 menit tentang K3, peneguran dan penjelasan.
  4. Melakukan aktivitas mingguan dalam bentuk pertemuan tentang K3, evaluasi, pengecekan dan analisis.
  5. Melakukan aktivitas bulanan dalam bentuk rapat pleno dengan seluruh unsur-unsur manajemen dan pekerja, pelaporan, pengecekan dan analisis.
  6. Pada saat tertentu melakukan penyelidikan kecelakaan, analisis keamanan pekerjaan, diagnosis, general chek up serta kampanye K3.

Ketentuan K3 pada bengkel Kerja : berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor : PER.04/MEN/1985.

Alat-alat pelindung badan

Pada waktu melaksanakan pekerjaan, badan kita harus benar-benar terlindung dari kemungkinan terjadinya kecelakaan. Untuk melindungi diri dari resiko yang ditimbulkan akibat kecelakaan, maka badan kita perlu menggunakan ala-alat pelindung ketika melaksanakan suatu pekerjaan.

Berikut ini akan diuraikan beberapa alat pelindung yang biasa dipakai dalam melakukan pekerjaan listrik dan elektronika.

Pakaian kerja

Pemilihan dan pemakaian pakaian kerja dilakukan berdasarkan ketentuan berikut.

  1. Pemakaian pakaian mempertimbangkan bahaya yang mungkin dialami
  2. Pakaian longgar, sobek, dasi, dan arloji tidak boleh dipakai di dekat bagian mesin
  3. Jika kegiatan produksi berhubungan dengn bahaya peledakan/ kebakaran maka harus memakai pakaian yang terbuat dari seluloid.
  4. Baju lengan pendek lebih baik daripada baju lengan panjang.
  5. Benda tajam atau runcing tidak boleh dibawa dalam kantong.
  6. Tenaga kerja yang berhubungan langsung dengan debu, tidak boleh memakai pakaian berkantong atau mempunyai lipatan.

Pelaksanaan Standard Operating Procedure

Ada tujuh tahapan atau langkah yang dapat digunakan untuk membuat suatu prosedur yang baik dan memaksimalkan semua potensi yang ada, antara lain sebagai berikut :

1. Menentukan tujuan yang ingin dicapai.

Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan tujuan yang ingin dicapai. Suatu prosedur akan berjalan dengan baik apabila dirancang dengan tujuan yang spesifik yang ingin dicapai.

Selanjutnya menentukan tujuan akhir oleh perusahaan melalui manajemen yang baik dengan SOP yang sudah dibuat.

2. Membuat rancangan awal

Setelah tujuan selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah menentukan bentuk SOP yang akan digunakan. Jika bentuk awalnya adalah flowchart, langkah awalnya adalah menentukan point utama yang menjadi pokok permasalahan. Selanjutnya, menentukan keputusan tentang apa yang dibutuhkan oleh pekerja untuk dilakukan dan tindakan penanganannya.

Dalam membuat rancangan awal disarankan tidak membuat secara detail, sampai didapatkan prosedur yang benar-benar sesuai dengan kenyataan.

3. Melakukan evaluasi internal

Setelah prosedur selesai dibuat, lakukan evaluasi dengan cara menyerahkan prosedur kepada orang-orang yang bersangkutan. Dengan menyerahkan tersebut diharapkan dapat menerima saran-saran perbaikan sehingga dapat dilakukan perbaikan supaya menjadi dipahami dan lebih akurat.

4. Melakukan evaluasi eksternal

Hal yang paling penting dalam melakukan evaluasi eksternal adalah keberadaan tim penasehat yang berasal dari perusahaan. Tim penasehat tersebut akan menilai dan mengevaluasi secara murni berdasarkan ilmu yang dimiliki dan hasil perbandingan dengan perusahaan lain yang sejenis.

5. Melakukan uji coba

Satu-satunya cara untuk mengetahui prosedur yang dibuat sudah efektif yaitu dengan mencoba menjalankan langsung prosedur tersebut. Setelah dijalankan langsung, maka akan diketahui apakah ada langkah-langkah pada prosedur yang tidak benar dan tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

6. Menempatkan Prosedur pada unit terkait

Setelah dilakukan uji coba, SOP diletakan pada bagian atau unit yang terkait. Peletakan SOP sebaiknya pada tempat yang memungkinkan setiap orang yang berkepentingan dapat melihat dengan mudah. Jika memungkinkan, prosedur dicetak dalam ukuran yang besar sehingga para operator dapat dengan mudah melihat dan membacanya.

7. Menjalankan Prosedur yang sudah dibuat

Langkah terakhir yang harus dilakukan dalam pembuatan SOP adalah menjalankan prosedur yang sudah dibuat sesuai dengan rancangan yang sudah dibuat. Pastikan semua pihak bersangkutan mengerti mengapa pelaksanaan SOP harus benar-benar dijalankan.

Konsep Work Instruction (WI)

Work Instruction (WI) menyediakan seluruh yang dibutuhkan secara detail untuk melakukan pekerjaan yang spesifik dengan benar dan sesuai standar yang baku. Work Instruction (WI) menunjukan bagaimana organisasi menghasilkan suatu produk atau menyediakan pelayanan dan system control untuk meningkatkan system kualitas dari produk tersebut agar sesuai dengan standar.

Work Instruction (WI) merupakan bagian dari Standard Operating Procedure (SOP). Pembuatan Work Instruction (WI)harus jelas, akurat, dan selalu didokumentasikan serta tidak boleh mengandung penjelasan yang meragukan. WI harus menggambarkan kenapa WI tersebut dibuat, kapan harus selesai, apa yang harus dikerjakan, perlengkapan apa saja yang akan dipakai, dan kriteria apa saja yang harus dipenuhi.

Penyusunan WI membuat berbagai komponen didalamnya, yaitu sebagai berikut :

  1. Lembar Data Dokumen (Document Data Sheet).

Berisi tentang semua informasi yang mewakili dokumen itu sendiri, antara lain nama dokumen, siapa yang membuat, kapan dokumen disetujui, siapa yang menyetujui, ringkasan dari isi dokumen, dll.

  • Tujuan dan Ruang Lingkup.

Berisi tentang penjelasan tujuan dibuatnya dokumen dan alas an mengapa dokumen tersebut dibutuhkan serta penjelasan batasan-batasan dan area pembahasan prosedur yang dibuat.

  • Prosedur.

Prosedur merupakan bagian utama dari dokumen. Prosedur yang dibuat merupakan gambaran dari suatu proses yang menjelaskan dengan detail setiap urutan prosesnya. Form yang digunakan pada suatu proses juga dijelaskan.

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

Suatu organisasi untuk keadaan darurat harus dibentuk untuk setiap daerah tempat bekerja yang meliputi semua pekerja, dibentuk petugas Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang dilengkapi alat komunikasi dan jalur transportasi. Setiap pekerja harus diberitahu adanya hal ini.

Memberikan pertolongan pertama kecelakaan atau ada yang kena sakit secara tiba-tiba harus dilakukan oleh dokter, juru rawat atau orang yang terdidik dalam P3K.

PRINSIP P3K

Beberapa prinsip yang harus ditanamkan pada jiwa petugas P3K apabila menghadapi kejadian kecelakaan adalah sebagai berikut:

a. Bersikaplah tenang, jangan pernah panik. Anda diharapakan menjadi penolong bukan pembunuh atau menjadi korban selanjutnya (ditolong)

b. Gunakan mata dengan jeli, kuatkan hatimu karna anda harus tega melakukan tindakan yang membuat korban menjerit kesakitan untuk keselamatannya, lakukan gerakan dengan tangkas dan tepat tanpa menambah kerusakan.

c. Perhatikan keadaan sekitar kecelakaan, cara terjadinya kecelakaan, cuaca dll

d. Perhatikan keadaan penderita apakah pingsan, ada perdarahan dan luka, patah tulang, merasa sangat kesakitan dll

e. Periksa pernafasan korban. Kalau tidak bernafas, periksa dan bersihkan jalan nafas lalu berikan pernafasan bantuan (A, B = Airway, Breathing management)

f. Periksa nadi atau denyut jantung korban. Kalau jantung berhenti, lakukan pijat jantung luar. Kalau ada perdarahan berat segera hentikan (C = Circulatory management)

g. Apakah penderita Shock? Kalau shock cari dan atasi penyebabnya

h. Setelah A, B, dan C stabil, periksa ulang cedera penyebab atau penyerta. Kalau ada patah tulang lakukan pembidaian pada tulang yang patah, Jangan buru-buru memindahkan atau membawa ke klinik atau rumah sakit sebelum tulang yang patah dibidai.

PRIORITAS PERTOLONGAN

Ada beberapa prioritas utama yang harus dilakukan oleh penolong dalam menolong korban yaitu:

a. Henti napas

b. Henti jantung

c. Pendarahan berat

d. Shock

e. Ketidak sadaran

f. Pendaraahan ringan

g. Patah tulang atau cedera lain

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN

  1. Dasar –Dasar Pertolongan Pertama

Pertolongan pertama yang mutlak dilakukan untuk keselamatan adalah

  1. Usaha menyadarkan kembali

  • Menghindari Pendarahan

Penderita luka parah membutuhkan pertolongan segera oleh tenaga P3K yang terlatih, juka tenaga medis tidak cepat didapat. Paling baik, jika mempunyai tenaga medis yang profesional, atau tenaga P3K yang terlatih. Jika tidak mempunyai sedikitnya harus mengetahui tindakan yang harus dilakukan sampai pertolongan datang.

Mengetahui letak kotak P3K atau ruang tempat pertolongan pertama

  • Jenis Kecelakaan Pada Waktu Kerja

Suatu saat, ada kemungkinan kontraktor harus melakukan pertolongan pertama, apabila terjadi peristiwa sebagai berikut :

a. Pendarahan,

b. Kejutan ( shock ),

c. Keracunan,

d. Luka bakar api atau luka bakar karena cairan kimia,

e. Luka pada mata,

f. Luka kecil karena benda – benda tajam, dan

g. sengatan listrik.

Pendarahan Dan Bagaimana Cara Menghentikannya

Penghentian pendarahan, pada umumnya dapat dilakukan dengan menekan luka berdarah tersebut. Jika pada kasus tertentu pendarahan tidak bisa dihentikan dengan cara ini, panggil segera tenaga medis, dokter.

Pendarahan hidung

a. Dudukan korban dengan tenaga dengan kepala menunduk

b. Cegahlah korban memaksa darah keluar dari hidungnya

c. Pijit, atau mintalah korban untuk memijit cuping hidungnya keras – keras

d. Jika pendarahan tidak berhenti selama 5 – 10 menit usahakan agar mendapat perawatan medis

Pendarahan karena luka

a. Mintalah pertolongan medis

b. Perlihatkan semua luka

c. Tutup dan tekanlah luka dengan tangan atau pencet tepi luka bersama – sama agar menutup, jika sempat tutuplah luka dengan sapu tangan, atau kain yang bersih sebelum ditekan

d. Penekanan dapat dilakukan dengan memberi bantalan tipis pada luka kemudian diikat erat – erat dengan perban. Bantalan harus cukup lebar menutupi seluruh luka dan seluruh bantalan harus trtutup perban.

e. Jika penderita merasakan kesakitan karena ikatan perban terlalu kencang,ikatan perban

f. Jika pendarahan masih berlangsung, beri bantalan dan perbanlah lagi,tanpa melepas ikatan bantalan yang pertama.

g. Bahan yang dipakai untuk menekan pendarahan terbuat dari bahan kayu, atau logam. Cara seperti ini dapat pula digunakan untuk menolong korban yang patah tulang.

Pendarahan : angkat lukanya dan Pendarahan : beri bantal tipis diatastekan sampai lukanya menutup luka dan perban erat-erat

Kejutan

Hampir setiap kecelakaan,cedera atau luka-luka,selalu diikuti oleh kejutan. Keadaan penderita pucat,dingin dan lunak kulitnya,lemas badan,dan denyut nadi makin cepat,mungkin juga tidak sadarkan diri.

a. Pindahkan korban di tempat yang nyaman dan tenang.

b. Jaga korban agar tenang dan tetap hangat badannya.

c. Longgarkan baju.

d. Usahakan agar korban merasa tenang dan yakinkan bahwa pertolongan segera datang.

Keracunan

Untuk semua peristiwa keracunan, Kirimkan kepada tenaga medis secepat mungkin.

a. Pindahkan ketempat yang segar.

b. Lakukan seperti merawat shock.

c. Buat pertolongan pernafasan,jika pernafasan berhenti. Jangan melakukan pertolongan pernafasan melalui kontak mulut ke mulut,bila terjadi racun terminum melalui mulut (asam,alkali,dan lain-lain)

d. Amankan dan simpan cairan yang diduga racun untuk contoh

e. Ambil dan muntahkan korban untuk pemeriksaan dokter/klinik

Luka Bakar Api

Penanganan segera secara medis tergantung pada sejauh mana tingkat penderitanyaannya.

a. Penanganan terbaik luka bakar adalah denggan mengucurkan air dingin dan bersih kebagian yang terbakar.

b. Jangan menarik,atau menyobek baju dari luka bakarnya.

c. Jangan mencoba memindah benda-benda yang menempel pada kulit yang terbakar.

d. Lakukan perawatan seperti menangani kejutan(shock).

e. Tutuplah luka bakar dengan bahan-bahan steeril seperti perban kering,handuk ataukertas,jika ada.

f. Jangan sentuh bagian luka bakar yang menggelembung, atau bagian otot-otot yang terbakar.

Kecelakaan dan Luka Pada Mata

Janganlah menggosok-gosok mata jika ada benda-benda yang masuk didalamnya.

a. Usahakan agar mata tetap dibuka

b. Jangan sentuh mata dengan apapun juga

c. Usahakan mendapat perawatan medis

d. Longgarkan perban pada mata

e. Bimbinglah korban ketempat perawatan medis

Luka mata:

– Perbanlah matanya longgar-longgar

– Bimbinglah korban untuk perawatan

– Jangan menyentuh mata

Luka Goresan dan Memar

Setiap luka meskipun ringan harus diobati dan dicatat kejadiannya.Setiap luka akan berakibat infeksi dan membusuk jika tidak segera diobati.

a. Pada luka goresan,biarkan darah mengalir beberapa menit,untuk membuang kemungkinan infeksi.

b. Jangan membalut luka dengan baju-baju lusuh,atau sapu tangan yang kotor pada luka.

c. Bersihkan luka dengan bahan-bahan yang lunak.

d. Berilah obat anti septic,steril,atau bahan aid untuk luka-luka ringan.

e. Panggilkan tenaga medis jika lukanya parah dan terlalu dalam.

Luka memar yang berat memerlukan perawatan medis segera jangan ditunda.

Kecelakaan Sengatan Listrik

Kecelakaan karena sengatan listrik dapat mengakibatkan kebakaran,jatuh,dan kejutan listrik.Masing-masing menyebabkan gejala yang berbeda pada korban.Penderita bias disebabkan oleh salah satu atau kombinasi membedakan ejala-gejala yang muncul.

Meskipun keterlambatan pertolongan dan penyadaran kembali dapat berakibat fatal, namun kejutan listrik umumnya dapat tidak langsung mematikan,hanya mungkin menyebabkan kepekaannya menurun, pernafasan terganggu atau berhenti, dan kerja jantungnya terganggu.Karena itu,yang terpenting adalah memeriksa kondisi pernafasan dan jantung penderita,jika berhenti harus segera dibantu dan dinormalkan kembali. (ks 2c)16-6-09

Kecelakan listrik sering

Menimbulkan luka sampingan

Bila menghadapi kecelakaan karena listrik,kerjakanlah segera tindakan dengan urutan sebagai berikut:

a. Matikan aliran listri,atau jika tidak mungkin,usahakan agar korban terbebas dari sengatan listrik

b. Beri pertlongan pertama sesuai gejalanya.

Cara Membebaskan Korban Dari Aliran Listrik

Begitu melihat korban terkena aliran listrik,cepat perhatikan keadaan sekitar.Tentukan cara terbaik untuk melepaskannya tanpa korban menderita lebih lanjut,karena jatuh dan lain-lain.Jika mungkin matikan aliran listrik,dan jasikan ini sebagai tindakan utama.Jika tidak mungkin anggap korban masih tetap terkena aliran listrik.

Jangan sekali-sekali menganggap korban telah terbebas dari aliran listrik

Matikan aliran listrik

Dorong atau tarik korban dengan bahan-bahan yang tidak menghantar arus listrik(tidak konduktif)agar terbebas dari sengatan listrik. Hendaknya seseorang selalu mengetahui letak dan daerah pelayanan setiap tombol listrik didaerah kerja masing-masing.

Untuk tegangan rendah(240 v,atau kurang), bila aliran listrik tidak dapat segera dimatikan,gunakan benda yang tidak konduktif, dan kering untuk melepaskan korban (jangan gunakan logam atau benda-benda yang basah).

a. Tariklah dengan menggunakan tali kering,kain kering,karet,atau plastic.

b. Tariklah baju korban,pada tempat yang longgar dan kering.

c. Berdirilah diatas papan kering ketika mendorong atau menarik korban

d. Doronglah dengan kayu kering

Jika mendorong korban hendaknya dilakukan dalam sekali gerak,agar selekas mungkin terbebas dari aliran listrik. Siapkan tenaga yang cukup untuk melepaskan,Korban yang menggenggam konduktor berarus listrik. Dengan memakai sarung tangan anda dapat memeukul pergelangan tangan,atau punggung telapak tangan korban sampai ia terbebas.

Untuk tegangan tinggi(650 v,atau lebih) Dan aliran listrik tidak dapat segera dimatikan jangan mendekat dalam radius 1,5 m. Gunakan tongkat yang panjangnya lebih dari 1,5 m terbut dari material yang tidak konduktif dan kering, untuk melepas korban.

Catatan :

Ingat bahwa korban karena listrik, badannya juga berarus listrik, karena itu jangan sekali-sekali memegang tubuh korban, baju yang melekat atau sepatunya,tanpa sarung pelindung tangan.

Jawablah pertanyaan dibawah ini.

  1. Jelaskan penyebab terjadinya kebakaran!
  2. Sebutkan jenis-jenis kebakaran dan cara pemadamannya!
  3. Jelaskan Cara Membebaskan Korban Dari Aliran Listrik
  4. Jelaskan pertolongan pertama yang harus dilakukan, apabila terjadi peristiwa :
  5. Pendarahan,  
  6. Kejutan ( shock ),
  7. Keracunan,
  8. Luka bakar api atau luka bakar karena cairan kimia,
  9. Luka pada mata,
  10. Luka kecil karena benda – benda tajam.
  11. Jelaskan mengapa kesehatan lingkungan sangat penting bagi kehidupan manusia ?
  12.  Jelaskan persyaratan kesehatan lingkungan kerja yang berlaku di sekolah anda
  13. Jelaskan aspek-aspek lingkungan/prasarana apa saja yang diatur dalam kesehatan lingkungan?
  14. Ceriterakan dalam bentuk tulisan situasi kerja yang tidak sehat, dan seharusnya bagaimana?
  15. Jelaskan bagaimana terjadinya kasus terjadinya penyakit akibat kerja!
  16. Jelaskan keuntungan bagi kita mengikuti aturan kesehatan kerja !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *